Baiklah, sudah hampir tiga bulan dari waktu dimana saya diangkat menjadi seorang sarjana, sudah tiga bulan lebih pula saya belum mendapatkan sesuatu yang berarti dalam pencapaian sebagai seorang sarjana muda. Dan sudah lima bulan ini tulisan blog ini tidak ada yang baru.

H-3 menjelang pergantian tahun ke 2012, tidak sengaja saya menantang teman saya, Andri dan Farnedi. Untuk melakukan kegiatan ‘bakar ayam’, awalnya saya tidak terlalu berniat juga untuk melakukan hal yang telah saya idekan. H-2, ternyata hasrat teman saya ini besar untuk dapat melaksanakan hal tersebut, sampai-sampai dia rela untuk meninggalkan kegiatan yang telah dia rancang 3 bulan sebelumnya, untuk menikmati tahun baru di kota Duri, kota kecil yang sampai saat ini belum menjadi sebuah layaknya ‘kota’.

H-1 pagi, perbincangan semakin tak menentu, siang hari berusalah kami untuk mencari ayam yang bisa menjadi korban pembakaran menjelang tahun baru -saya sebenarnya tidak menrencanakan tahun baru. Sampai ditempat pertama, ternyata ayamnya sudah habis semua. Kekhawatiran tentang ketidak adaan ayam potong mulai terfikir. Sampai ketempat kedua, ternyata ayamnya masih pada kecil semua. belum ada yang bisa untuk menjadi korban. Tidak  dapat dipikir lagi, kemana akan mencari ayam. Akhirnya kami kembali ke markas, menyatakan bahwa tidak ada ayam yang bisa dibeli -bukan curi. Sampailah hari menjelang sore, teman satu ini sangat nekat untuk melaksanakan apa yang telah direncanakan, dia sampai ngotot kalau dia merelakan untuk tidak pergi ke Duri, namun malam ini, kegiatan harus bisa dilaksanakan. Berbagai alternatif telah dinyatakan, dimana akan mendapatkan ayam, muncul ide membeli ayam kampung saja, walaupun harganya selangit untuk katong pengangguran seperti saya. Akhirnya seekor ayam kampung berhasil didapatkan dari seorang teman yang memelihara ayam kampung, 1,05 kg beratnya, dengan harga pas 40.000.

Menjelang maghrib ayam sudah ditangan, saya merasa kekhawatiran yang besar, apa saja bumbu yang pas untuk ayam bakar, siapa nanti yang akan membawanya ke barak –tempat jaga malam, siapa nanti yang bawa ini dan itu. Teman saya mengajukan, kita potong saja ayamnya sekarang, jadilah menjelang meghrib pemotongan ayam. Mengenai ayam ini, saya juga sedikit sedih melihat ayam ini, pisau pemotongnya sampai tiga kali melesat dilehernya, terlalu tumpul untuk dapat melukainya. Sampai di asah dua kali untuk meyakinkan bahwa pisau ini telah tajam, ayamnya sebenarnya sudah cukup tenang untuk menghadapi takdirnya. Saya, pemotongnya yang khawatir. Menjelang pulang, teman satu ini cuma bilang, “kamu bawa air minum saja nanti”, “ok”.

Teman yang dua-duanya mendapat giliran jaga malam dibarak. Mereka berangkat sesudah magrib kesana, sempat mampir kerumah, ” ada yang kurang, tidak ada serai”. “Serai banyak”, saya langsung mengambil sebatang serai dan memberikan kepada mereka dan menanyakan apa yang seharusnya aku bawa, “air minum”, cuma itu saja yang harus saya bawa, menjelang berangkat setelah isya ada sms masuk, ” kami lupa bawa garam, bawa ya”, hal yang paling krusial, bisa dilupakan. Berangkat juga setelah sempat mampir diwarung untuk membeli cemilan yang bisa menambah taik gigi. Tak lupa, sambal cabe ibu, yang kelihatannya banyak berlebih, saya bawa untuk menambah rasa dan suasana.

Saya akhirnya sampai ditempat yang jaga malam, setelah melewati jalanan gelap tanpa penerang, hanya ada lampu sepeda motor saya, agak mengerikan juga jalan malam ditengah hutan –bukan hutan, kebun tepatnya. Saya sampai disana, disambut mereka dan tidak lupa menanyakan hal yang seharusnya aku bawa. Ayam sudah siap untuk dibumbui. Selanjutnya mencari kayu bakar ditengah banjir yang sudah hampir mencapai jalan, dimana kami akan membakar ayam. Sulit memang, namun tidak disangkat mereka pulang dari mencari kayu dengan hasil yang memuaskan. Kayu-kayu itu masih kering, saya heran juga, ini kayu siapa yang diambil, bisa kering begitu, ditengah banjir yang kelihatan lautan jika dimalam hari.

Api sudah siap, selanjutnya meramu bumbu didalam botol mizon yang sudah dipotong 3 bagian, percekcokan mulut selalu terjadi, ini kadang yang membuat saya heran, selalu berdebat tapi selalu akur lagi –well, kadang-kadang debatnya terlalu masalah sepele juga. Lanjut dengan prosesi pembakaran dan sesi foto-foto, mulai membuat api unggun, hingga ayam dinyatakan sudah matang, cret…cret… dan ayampun sudah matang, terlalu cepat menurut saya memang, jam 11.30. Tanpa menhiraukan perhitungan mundur, ayam sudah mulai dihitung mundur untuk mencapai tingkat ketulangannya. Prosesi makan-makan sudah selesai. Tinggal menghisap hudud yang dapat mengobati sedikit pedas sambal ijo yang selangit. Tidak lama perhitungan mundur pun dimulai, untuk menyambut tahun baru, terus terang saya tidak sedang merayakan tahun baru.

Bersambung ke Awalnya 2