Mengenai pembatalan Farnedi ke Duri, pada H-2 dia ditawari untuk menjadi penjaga sementara pada malam yang tahun baru itu, hal sempat membuat dia bingung membuat keputusan, namun karna keinginannya untuk ikut, akhirnya lobi dengan teman yang akan berangkat ke Duri bisa dilakukan, jadilah dia iku ke Barak.

Barak adalah nama tempat dimana teman saya berjaga malam, dan prosesi pembakaran itu akan berlangsung disana. Saya mejadi guest malam itu, penjaga ekstra. Barak itu berada ditengah kebun sawit yang bukan orang asli kampung saya yang punya, sebuah ironi yang tidak terperikan dan saya tidak bisa melakukan apa-apa mengenai hal ini.

Lanjut, setelah makan-makan dan menghabiskan beberapa rokok, tak lupa meperhatikan kembang api yang dihidupkan dari berbagai penjuru. Kami mencoba menebak dari mana asal kembang api itu, Farnedi berkata “Ha,, itu kembang api dari Duri”, “Bukan kah itu dari kampung kita?” dia bertaya kepada kami, kami berusaha untuk melihat arah  yang ditunjukan oleh Farnedi. Kami pun sedikit meng-iyakan karna kami tidak yakin, soalnya tidak ada acara untuk merayakan tahun baru dikampung, yang ada hanya pesta pernikahan pada malam perubahan tahun masehi itu.

Sesuai dengan apa yang telah kemukakan pada awal kedatangan saya di barak malam itu, bahwa kita membicarakan hal-hal sedikit serius tentang perencanaan kedepan, tentang keinginan, planning, pencapaian yang harus didapatkan. Aku mulai melakukan pembicaraan mengenai hal ini, sedikit agak meragukan memang, saya rasa teman saya ini tidak pernah punya mimpi sebagai pencapaian dalam waktu yang ditentukan. Saya mulai suka dengan kalimat ” You can’t control what you can’t measure .” Tentukan target, buat rincian ke target, sepertinya hal ini akan membuat target menjadi lebih jelas, dari pada punya target, tapi tidak tau sudah sampai tahap mana target ini berjalan.

Ketika saya bertanya mereka memberikan beberapa pencapaian yang mereka inginkan dalam satu tahun kedepan, sebenarnya saya ingin membuat ini sebagai pembelajaran juga pada diri saya, bagaimana kita memiliki mimpi, keinginan dan bagaimana kita dapat menjadikannya real. Mungkin karena mereka belum terbiasa atau ada alasan lain, mereka sepertinya kurang tertarik tentang masalah ini, tapi berusaha untuk menyemangati mereka, yang sebenarnya menyemangati diri saya sendiri, tentang cara bermimpi dan cara mewujudkannya. Akhirnya beberapa mimpi mereka keluarkan, mimpi tentang pencapaian pada diri sendiri, untuk keluarga mereka dan lingkungan.

Saya secara pribadi sebenarnya ingin mematahkan berbagai hal yang menyangkut pada diri orang melayu khususnya, yang saya kira untuk kurang tepat pada beberapa kasus tertentu, dan hal itu sering dikemukakan, yang saya kira saya mencari kambing hitam terhadap keadaan mereka saat ini.

Andriwan memiliki impian untuk membeli Televisi dan memiliki sebidang tanah yang bisa dijadikan tempat membangun rumah. Farnedi punya impian mendapatkan pekerjaan tetap, disekolah atau tempat lain dan dapat membeli tempat mencetak batu blok, dia sangat ingin membuat rumah dapur untuk orang tuanya, niat yang sangat mulia. dan Saya sendiri memiliki bisnis online atau penghasilan dari internet, dapat melakukan banyak implementasi Teknologi Informasi di banyak Pesantren, khususnya di Riau, dan yang ketiga mendapat seseorang yang ramah, baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan lain-lain..😀

Saya benar-benar tidak menyangka akan menjadi seperti ini kesannya acara malam itu, saya memang tidak bisa menyatakan bagaimana senangnya saya, tapi saya sangat senang. Dari ekspresi mereka sampai H+2 masih terasa sangat senang sekali, melihat ‘dokumentasi’ foto yang saya upload. Senang saya melebihi senangnya mereka, namun saya tidak bisa berekspresi untuk menyatakan bahwa saya sesenang itu.

Terima Kasih… Andriwan dan Heri Farnedi.

Andriwan : Selamat menempuh hidup baru, teruslah langgeng sampai akhir kisah kehidupan ini. (Ntar lagi jadi bapak ya…🙂 )

Heri Farnedi : Tetap pada semangat 45 mu, roda akan berputar.

Sobat mu, Henri Sekeladi